11 April 2016

Teori Multiple Intelligences : Bagaimana Strateginya dalam Pembelajaran ? (Bagian 2)

      Pendidik yang efektif harus dapat mengenali secara dini kecerdasan masing-masing peserta didik, dan kemudian memberikan layanan yang sesuai dengan tipe kecerdasan yang mereka miliki. Peran penting pendidikan dalam mengembangkan kecerdasan minimal ada tiga macam,yaitu :
  1. Mengenalinya secara dini tipe kecerdasan setiap peserta didik.
  2. Memberikan model layanan pendidikan yang sesuai dengan kecerdasan tersebut.
  3. Mengasah dan mengembangkan kecerdasan semua peserta didik secara optimal.
      Seorang pendidik alam proses belajar mengajar, setidaknya harus memperhatikan kecenderungan kecerdasan potensial masing-masing peserta didik. Peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan logis-matematis pasti akan memiliki gaya belajar (learning style) yang berbeda dengan peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan linguistik, bahkan dengan peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan ragawi-kinestetis. Peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan kinestetik akan merasa lega jika diberikan kesempatan untuk terjun ke lapangan olahraga atau ke tempat latihan tari-menari. Demikian juga dengan peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan yang lainnya. 
Pada prinsipnya, ada tiga gaya mengajar yang paling umum dapat diamati oleh pendidik. Pertama, gaya visual (visual learning), yakni gaya belajar yang lebih suka menggunakan gambar-gambar, bahan bacaan yang dapat dilihat. Kedua, tipe audio, yang lebih suka mendengarkan, misalnya mendengarkan ceramah atau penjelasan dari gurunya, atau mendengarkan bahan audio seperti radio kaset, dan sebagainya. Ketiga, tipe taktil, yang lebih suka menggunakan tangan dan badannya. Peserta didik tipe taktil akan tidak suka diminta duduk manis untuk mendengarkan ceramah guru seperti yang disukai oleh peserta didik yang memiliki gaya audio. Peserta didik gaya taktil akan senang untuk diminta untuk mengerjakan pekerjaan tangan atau mengotak-atik mesin perkakas.
      Strategi pembelajaran kecerdasan ganda bertujuan agar semua potensi anak dapat berkembang. Terdapat beberapa strategi dasar dalam kegiatan pembelajaran untuk mengembangkan kecerdasan ganda (Budiningsih, 2012:117):

a.         Awakening Intelligence (Activating the sense and turning on the brain). Membangunkan/ memicu kecerdasan, yaitu upaya untuk mengaktifkan indera dan menghidupkan kerja otak.
b.        Amplifying Intelligence (Exercise &Strengthening awakened capacities). Memperkuat kecerdasan, yaitu dengan cara memberi latihan dan memperkuat kemampuan membangunkan kecerdasan.
c.         Teaching for with intelligence (Structuring lessons for multiple intellegences). Mengajarkan dengan /untuk kecerdasan ,yaitu upaya-upaya mengembangkan struktur pelajaran yang mengacu pada penggunaan kecerdasan ganda.
d.        Transferring intellegence (Multiple ways of knowing beyond the classroom). Mentransfer kecerdasan, yaitu usaha memanfaatkan berbagai cara yang telah dilatihkan di kelas untuk memahami realitas di luar kelas atau pada lingkungan nyata.

      Dalam mengenali kecerdasan setiap peserta didik, salah satu cara dapat digunakan sebuah alat yang telah dikembangkan oleh Walter Mckenzie, 2005. Alat tersebut bernama multiple intellegence test yang akan digunakan untuk melakukan multiple intellegences survey. Dengan menggunakan alat tersebut, pendidik akan lebih mudah mengetahui kecerdasan setiap individu peserta didik. Pelaksanaan tes atau survei tersebut hendaknya dilakukan ketika pertemuan pertama pembelajaran, sehingga karakteristik peserta didik dapat diketahui sejak awal. Alat tersebut akan secara terperinci menggambarkan kecerdasan-kecerdasan setiap peserta didik dalam bentuk angka dan bagan. Gambaran dari tes kecerdasan ganda tersebut ditampilkan pada gambar 1.
Gambar 1. Tes Kecerdasan Ganda

      Multiple Intelligences test dapat digunakan oleh pendidik dengan cara memberikan para peserta didik sebuah kuesioner yang berisi dengan berbagai pernyataan sebagaimana yang tercantum pada Gambar 1. Petunjuk pengisian dari kuesioner tersebut ialah jika setuju dengan pernyataan tersebut maka peserta didik harus memberikan sebuah tanda centang/ checklist, sedangkan tidak setuju peserta didik cukup mengosonginya saja. Jika menggunakan komputasi digital (misalnya, melalui Microsoft Excel), maka peserta didik perlu mengisikan angka 1 untuk "setuju" dan angka 0 untuk "tidak setuju". Proses tersebut ialah proses mendapatkan data, maka selanjutnya ialah proses kalkulasi dan analisis. Namun, sebelum memasuki proses kalkulasi dan analisis, hal yang perlu diketahui adalah butir - butir pertanyaan tersebut merupakan representasi dari kesembilan kecerdasan dalam Teori Multiple Intelligences. Oleh sebab itu, sebelum melakukan analisis, langkah pertama ialah mengumpulkan butir - butir manakah yang mewakili setiap kecerdasan tersebut. Pengelompokan butir - butir pertanyaan tersebut berdasarkan tipe kecerdasannya akan disajikan pada Gambar 2 berikut.
Gambar 2. Pengelompokan Butir - butir Pernyataan Berdasarkan Tipe Kecerdasan

      Kalkulasi persentase kecerdasan dihitung setiap kecerdasan, sehingga dengan demikian akan diketahui seberapa besar tiap kecerdasan untuk setiap peserta didik. Selain itu, hal tersebut juga akan memperjelas bagaimana posisi kecerdasan yang satu dengan kecerdasan yang lain pada setiap peserta didik. Langkah - langkah dalam melakukan kalkulasi dari data yang diperoleh dari tiap peserta didik ialah sebagai berikut.
  1. Menghitung jumlah pernyataan yang "setuju" pada butir - butir tiap kecerdasan. Misalnya, pada butir - butir tipe kecerdasan visual, seorang peserta memberi tanda "setuju" sejumlah 7 butir pernyataan,
  2. Menghitung total pernyataan dalam setiap kecerdasan. Misalnya, pada tipe kecerdasan visual memiliki 11 butir pernyataan.
  3. Membagi antara jumlah pernyataan yang dijawab "setuju" dengan total butir dalam setiap kecerdasan. Misalnya, pada tipe kecerdasan visual, hasil tes seorang peserta didik adalah jumlah butir setuju sejumlah 7 (tujuh) dan total butirnya sejumlah 11 (sebelas). Penghitungannya menjadi (7/11) x 100% = 63,6 % atau dibulatkan menjadi 64%. Dengan demikian kecerdasan visual yang dimiliki peserta didik tersebut ialah 64%.
  4. Melakukan pola yang sama untuk menghitung persentase kecerdasan yang lain.
  5. Menyajikan dalam bentuk diagram agar mudah untuk dibaca. Misalnya, diagram batang.

      Proses kalkulasi untuk setiap tipe kecerdasan sebenarnya sudah cukup untuk menggambarkan bagaimana potensi dan karakter yang dimiliki oleh peserta didik, namun untuk kebutuhan yang lengkap dapat dilakukan kalkulasi pada setiap kawasan Multiple Intelligences. Kawasan Multiple Intelligences terdiri dari kawasan interaktif, analitik, dan introspektif, sebagaiman yang sudah dibahas pada bagian 1 artikel (Baca : Teori Multiple Intelligences : Apakah itu ? (Bagian 1)). Langkah - langkah kalkulasinya ialah sebagai berikut.
  1. Setiap kawasan memiliki 3 (tiga) tipe kecerdasan. Kawasan interaktif terdiri dari kecerdasan kinestetik, interpersonal, dan verbal. Kawasan analitik terdiri dari kecerdasan logika, musikal, dan naturalis. Kawasan introspektif terdiri dari kecerdasan visual, intrapersonal, dan eksistensi.
  2. Mengelompokkan persentase tiap kecerdasan yang telah diperoleh berdasarkan kawasannya. Misalnya, pada kawasan interaktif hasil dari tipe - tipe kecerdasannya ialah  kinestetik sebesar 11%, interpersonal sebesar 23%, dan verbal sebesar 70%.
  3. Menghitung rerata dari setiap persentase tersebut. Misalnya (11%+23%+70%)/ 3 = 35%. Perolehan tersebut memiliki pemahaman bahwa rerata persentase dari 3 (tiga) kecerdasan dalam kawasan interaktif tersebut ialah 35%.
  4. Melakukan pola kalkulasi yang sama terhadap kawasan yang lainnya.
  5. Setelah diperoleh rerata persentase dari setiap kawasan, selanjutnya ialah membuat persentase dari ketiga kawasan tersebut untuk mengetahui posisi dan proporsi antara satu dengan kawasan yang lainnya. Penghitungannya ialah persentase kawasan x total persentase semua kawasan x 100%. Misalnya, diperoleh data persentase kawasan interaktif sebesar 35%, kawasan analitik sebesar 70%, dan kawasan introspektif sebesar 72%. Pada contoh kasus untuk menghitung persentase dari proporsi kawasan interaktif terhadap kawasan lainnya, penghitungannya ialah 35% x (35%+70%+72%) x 100% = 20%. Dengan menggunakan rumusan yang sama akan diperoleh persentase dari porporsi kawasan analitik dan introspektif sebesar 40% dan 41%, sehingga jika proporsinya dijumlah akan menghasilkan 100%. Kesimpulan akhir yang diperoleh ialah proporsi dari kawasan interaktif sebesar 20%, kawasan analitik sebesar 40%, dan kawasan interospektif sebesar 41%. 
  6. Menyajikan dalam bentuk diagram berdasarkan penghitungan yang diperoleh. Misalnya, diagram pie.

     Kalkulasi untuk setiap kawasan tersebut dapat digunakan sebagai opsional saja, mengingat proses penghitungannya lebih rumit sedangkan karakteristik peserta didik dapat langsung diketahui pada kalkulasi tiap tipe kecerdasan. Contoh dari hasil kalkulasi kecerdasan atau karakteristik peserta didik berdasarkan teori Multiple Intelligences disajikan pada Gambar 3 berikut.
Gambar 3. Contoh Hasil Multiple Intelligences Test 

     Demikian sedikit strategi dalam menerapkan teori Multiple Intelligences dalam pembelajaran. Semoga bermanfaat.



Referensi :
Budiningsih, C. Asri. 2012. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta
McKenzie, Walter. 2005. Multiple Intelligences and Instructional Technology (2nd Ed). Washington DC: ISTE

Sebelumnya
Selanjutnya

Saya adalah seorang penggiat di dunia pendidikan. Konsentrasi saya sekarang ialah dalam hal teknologi pendidikan dan pendidikan geografi. Saya sangat suka dalam menciptakan karya, baik berupa tulisan maupun media pembelajaran.

0 komentar:

Saya ucapkan terima kasih sudah mengunjungi dan membaca tulisan di website kami. Kami selalu mengharapkan sebuah saran dan kritik yang membangun. Terima kasih.