19 Juni 2016

Sadewa: Si Pemberi Peringatan Dini Terhadap Bencana

Karakteristik alam Indonesia yang terletak di garis khatulistiwa dan dikelilingi oleh lautan dan samudera yang luas akan memberikan potensi fenomena klimatologis yang beragam. Letak Indonesia yang dikelilingi oleh samudera yang luas yaitu Samudera Hindia dan Samudera Pasifik akan meningkatkan terbentuknya awan hujan yang selanjutnya jatuh di kawasan Indonesia dan menyebabkan banjir. Oleh sebab itulah dalam hal tersebut perlu sebuah pengawas yang mampu melihat bagaimana kondisi atmosfer di atas wilayah Indonesia. Kebutuhan akan pengawas atau pemantau di atas wilayah Indonesia tersebut ditangkap oleh LAPAN sebagai lembaga penerbangan dan antariksa di Indonesia dengan cara membuat satelit yang akan bertugas sebagai pemantau kondisi atmosfer dan klimatologis di Indonesia. Satelit tersebut bernama Sadewa atau Satellite Disaster Early Warning System. Sadewa diluncurkan pada tahun 2005 lalu dengan jenis orbit geostastioner atau mengikuti gerakan rotasi bumi serta berada tepat di atas garis ekuator (lintang 0o) yang mengorbit pada ketinggian 35.800 km di atas khatulistiwa.

Sadewa merupakan sebuah sistem informasi peringatan dini bencana berbasis teknologi satelit dan juga dapat dilengkapi dengan sensor-sensor terestrial. Sadewa berfungsi untuk memberikan peringatan dini kepada pihak-pihak yang terkait dengan penanganan kejadian bencana sebagai bagian dari pengelolaan resiko bencana. Sadewa terdiri dari sub-sistem pemantauan, sub-sistem prakiraan dan sub-sistem peringatan. Sadewa memantau kondisi lingkungan mendekati real-time dari satelit kemudian memprakirakan kemungkinan terjadinya potensi bencana dengan menggunakan model-model komputer, dan menyampaikan informasi peringatan dini bencana melalui monitor display di ruang kontrol, website, e-mail maupun pesan singkat (SMS) melalui telepon seluler (Didi Setiadi, 2015).

Informasi Sadewa dapat diakses oleh siapapun secara online, dengan cara mengunjungi portal Sadewa 3.0 yang beralamat di http://sadewa.sains.lapan.go.id/. Pada portal tersebut akan menampilkan data awan penyebab hujan yang disajikan secara real time sehingga dapat digunakan sebagai acuan dalam memprediksi intensitas hujan di Indonesia. Informasi yang ditampilkan merupakan hasil pemantuan yang dilakukan oleh satelit sadewa terhadap hujan ekstrim yang berpotensi menimbulkan bencana banjir dan tanah longsor. Skema kerja Sadewa dapat dilihat pada Gambar 1 berikut.
Gambar. Alur Kerja Sadewa 3.0
(Sumber: http://sadewa.sains.lapan.go.id)
Berdasarkan skema tersebut di atas maka kurang lebih alur kerja Sadewa hingga mendapatkan data potensi bencana ialah sebagai berikut.
  1. Sadewa akan terus menampilkan data awan yang berpotensi pembawa hujan ekstrim secara real time.
  2. Data tersebut akan dikirimkan ke reciever yang berada di permukaan bumi
  3. Data kemudian dikirim ke server.
  4. Data yang diperoleh dari satelit kemudian dikombinasikan dengan data yang diperoleh dari sensor yang terdapat di permukaan bumi (terestrial).
  5. Data yang diperoleh dari satelit dan sensor yang berada di permukaan bumi selanjutnya ditranmisikan ke jaringan internet sehingga akan diperoleh tampilan data hasil penginderaan jauh (remote display) tersebut.
  6. Data hasil penginderaan jauh kemudian disajikan di portal Sadewa 3.0 secara online dan dapat diakses secara bebas.
Kanal atau saluran (channel) yang digunakan sadewa ialah spektrum Inframerah (Infrared) dengan berbagai panjang gelombang dan spektrum tampak (visible). Berikut sensor – sensor yang digunakan satelit sadewa serta kegunaannya (Tabel 1).

Tabel 1. Kanal yang terdapat di Sadewa dan kegunaannya
KANAL
PANJANG GEL
KEGUNAAN
VIS
0.55-0.90 μm
Memantau kondisi daratan, lautan, dan awan pada siang hari.
IR 1
10.3-11.3 μm
Memantau fenomena meteorologi dan pengamatan puncak awan.
IR 2
11.5-12.5 μm
Memantau fenomena meteorologi dan pengamatan puncak awan.
IR 3
6.5-7.0 μm
Memantau kandungan uap air di awan.
IR 4
3.5-4.0 μm
Mengidentifikasi awan rendah di malam hari, mengindentifikasi awan tinggi, mendeteksi kebakaran dan mengidentifikasi sifat mikrofisika awan (ukuran partikel).
(Sumber: http://sadewa.sains.lapan.go.id)

Tampilan data hasil penginderaan jauh Sadewa terhadap awan yang berpotensi menimbulkan hujan ekstrim dapat dilihat dengan cara membuka portal Sadewa 3.0, kemudian tunggu beberapa saat hingga data awan akan muncul. Kenampakan tampilan data dari Sadewa ialah sebagai berikut (Gambar 2).
Gambar 2. Tampilan Pengamatan Satelit MTSAT Kanal Awan Hujan
(Sumber: http://sadewa.sains.lapan.go.id)

Pembacaan mengenai data awan hujan dapat melihat legenda di sebelah kiri dan keterangan mengenai waktu pemantuan Sadewa. Legenda yang berada di sebelah kiri berbentuk persegi panjang dengan pemberian gradasi warna pada setiap level yang berbeda, semakin besar levelnya maka curah hujan akan semakin tinggi. Gradasi warna tersebut menunjukkan intensitas hujan, yakni warna terang menunjukkan curah hujan tinggi, sedangkan warna gelap atau transparan menunjukkan curah hujan rendah atau tidak terjadi hujan. Terdapat banyak data awan hujan yang dapat dipilih pada menu observasi (bagian atas) Sadewa 3.0, berikut akan dirangkum fungsi masing – masing fitur.

Tabel 2. Informasi yang dapat disajikan oleh tiap kanal di Sadewa 3.0
KANAL/ KOMPOSIT KANAL
INFORMASI
CARA MEMBACA DATA
VIS
Kanal Visible (cahaya terilhat) menapilkan pantulan dari cahaya matahari (albedo).
Albedo tinggi dari awan tebal berwarna putih sedangkan albedo rendah dari awan tipis berwarna gelap atau transparan.
IR 1
Kanal IR1 (Infra Merah) menampilkan emisi dari puncak awan (temperatur).
Temperatur dingin awan tinggi berwarna merah gelap sedangkan temperatur hangat dari awan rendah berwarna lebih terang atau transparan.
IR 2
Kanal IR2 (Infra Merah) menampilkan emisi dari puncak awan (temperatur).
Temperatur dingin dari awan tinggi berwarna hijau gelap sedangkan temperatur hangat dari awan rendah berwarna terang atau transparan.
IR 3
Kanal IR3 (Infra Merah) menampilkan emisi dari puncak awan (temperatur) yang sebagian diserap oleh uap air.
Temperatur dingin dari awan tinggi berwarna cyan gelap sedangkan temperatur hangat dari awan rendah berwarna lebih terang atau transparan
IR 4
Kanal IR4 (Infra Merah) menampilkan emisi dari puncak awan (temperatur) juga sedikit pantulan cahaya matahari (emisi).
Temperatur dingin dari awan tinggi berwarna magenta gelap sedangkan temperatur hangat dari awan rendah berwarna lebih terang atau transparan.
IR 1 - IR 2
Kanal IR1-IR2 menampilkan perbedaan antara kanal IR1 dan IR2.
Perbedaan kecil menunjukan awan tinggi dan tebal (cumulonimbus) berwarna hijau gelap sedangkan perbedaan yang besar menunjukkan ketiadaan awan atau awan tipis (cirrus)) berwarna lebih terang atau transparan.
IR 4 - IR 1
Kanal IR4-IR1 menampilkan perbedaan antara kanal IR4 dan IR1.
Perbedaan besar menunjukkan awan dengan butir air/es besar berwarna kuning cerah sedangkan perbedaan yang kecil menunjukkan ketiadaan awan atau awan dengan butir air/es kecil berwarna lebih gelap atau transparan.
IR 1 T
Kanal IR1T menampilkan diferensial temperature kanal IR1 dengan temperature satu jam sebelumnya (DTB1/DT).
Nilai negatif menunjukkan awan tumbuh berwarna magenta terang sedangkan nilai positif menunjukkan awan luruh berwarna lebih gelap atau transparan
IR 1 A
Kanal IR1A Menampilkan diferensial temperature kanal IR1 dengan temperature rata-rata piksel di sekelilingnya (DTB1/DA).
Nilai Positif menunjukkan puncak awan konvektif berwarna hijau gelap sedangkan nilai negative menunjukan anvil berwarna lebih terang atau transparan.
COM
Kanal COM menampilkan komposit antara kanal IR1, IR1-IR2 dan IR1-IR3.
Warna terang menunjukan curah hujan tinggi sedangkan warna gelap atau transparan menunjukkan curah hujan rendah atau tidak terjadi hujan.
(Sumber: http://sadewa.sains.lapan.go.id)

Data dari penginderaan satelit Sadewa tersebut sangat bermanfaat terutama bagi sistem peringatan dini terhadap banjir dan tanah longsor. Sebagaimana yang diketahui bahwa banjir dan tanah longsor merupakan fenomena yang sering terjadi dan kerap menimbulkan korban jiwa di Indonesia. Mari kita lebih waspada dan berhati - hati serta lebih cerdas memanfaatkan data. Semoga bermanfaat dan kami ucapkan terima kasih.

Referensi:
LAPAN. (2015). Sadewa 3.0. Diambil pada tanggal 19 Juni 2016, dari http://sadewa.sains.lapan.go.id/
Didi Setiadi. (2015). Manual Sadewa. Diambil pada tanggal 19 Juni 2016, dari http://sadewa.sains.lapan.go.id/sadewa30/Sadewa3.0_Help/Manual%20SADEWA.html?WelcometoSADEWA.html


Sebelumnya
Selanjutnya

Saya adalah seorang penggiat di dunia pendidikan. Konsentrasi saya sekarang ialah dalam hal teknologi pendidikan dan pendidikan geografi. Saya sangat suka dalam menciptakan karya, baik berupa tulisan maupun media pembelajaran.

2 komentar:

  1. Makasih artikelnya.. Sekarang jadi bisa memperkirakan cuaca.
    Ternyata lembaga antariksa di Indonesia keren juga ya, punya satelit sendiri. Baru tahu sekarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama. Terima kasih sudah mulai membaca dan berkunjung. Lembaga antariksa atau LAPAN sebenarnya sudah punya beberapa satelit tetapi masih dikategorikan satelit mikro, diantaranya Lapan-A1, Lapan-A2, dan Lapan-A3 (yang terbaru). Satelit LAPAN tersebut memiliki fungsi penginderaan jauh.

      Hapus

Saya ucapkan terima kasih sudah mengunjungi dan membaca tulisan di website kami. Kami selalu mengharapkan sebuah saran dan kritik yang membangun. Terima kasih.