27 September 2020

Desain Pembelajaran Di E-Learning : Model Desain Pembelajaran (Bagian 4)

Gambar. E-Learning

Model Desain Pembelajaran

Pengembangan pembelajaran dalam e-learning memerlukan sebuah model yang berguna sebagai panduan dalam menyusun sistem pembelajaran yang efektif melalui serangkaian langkah atau tahapan. Dalam dunia desain pembelajaran atau desain instruktsional, terdapat beberapa model yang umum digunakan oleh pengembang pembelajaran, diantaranya yang paling populer dalam pengembangan e-learning ialah sebagai berikut :

  • ADDIE

ADDIE merupakan sebuah model desain pembelajaran yang dijadikan akar atau refensi utama dari model-model desain pembelajaran yang lain. ADDIE sendiri merupakan sebuah singkatan yang menggambarkan tahapan di dalamnya, yakni Analysis (Analisis), Design (Desain), Development (Pengembangan),  Implementation (Pelaksanaan), dan Evaluation (Evaluasi). 

Gambar. Tahapan pada Model ADDIE

1. Analysis (Analisis)
Pada tahap analisis, pendidik diharuskan mengklarifikasi sebuah masalah, menentukan tujuan, dan sasarannya, serta mengumpulkan data yang diperlukan. Pendidik juga perlu mendefinisikan karakteristik dari peserta didik yang akan mengikuti pembelajaran, isi materi/konten, lingkungan pembelajaran sebelumnya, dan persyaratan teknis yang diperlukan oleh peserta didik agar mendapatkan hasil belajar yang dibutuhkan.

2. Design (Desain)
Pada tahap desain, pendidik perlu menulis tujuan pembelajaran, menyusun struktur materi dan urutannya, serta merancang kuis atau ujian yang akan digunakan untuk menguji peserta didik terhadap pemahaman materi yang telah diberikan.

3. Development (Pengembangan)
Pada tahap pengembangan, pendidik perlu membuat storyboard design yang akan digunakan untuk menampilkan teks, referensi grafis, audio, dan video sehingga dapat dirangkai menjadi sebuah media pembelajaran yang menarik dan efektif.

4. Implementation (Pelaksanaan)
Pada tahapan ini merupakan tahap ketika konten pembelajaran atau produk yang dikembangkan diterapkan kepada para pengguna atau peserta didik. Konten pembelajaran e-learning tersebut harus dapat diakses dengan mudah oleh peserta didik melalui berbagai pilihan platform, seperti via website atau mobile.

5. Evaluation (Evaluasi)
Pada tahap evaluasi, efektivitas sebuah pembelajaran akan dievaluasi atau dinilai tingkat keberhasilannya setelah konten pembelajaran tersebut diakses atau digunakan oleh para pengguna yang dalam hal ini ialah para peserta didik.

  • Successive Approximation Model (SAM)

Model ini diperkenalkan oleh Michael Allen, yang merupakan seorang ahli e-learning berkebangsaan Amerika Serikat. Jika pada ADDIE memiliki 5 tahapan yang linier/berurutan, maka SAM memiliki 8 tahapan yang berulang. Kedelapan tahapan tersebut  tersebar ke dalam 3 tahap besar, yaitu :

Gambar. Tahapan pada model SAM

1. Preparation
Preparation atau persiapan merupakan tahap yang cukup penting atau bahkan paling penting, sebab pada tahap ini merupakan landasan atau acuan yang akan digunakan dalam tahapan pengembangan berikutnya. Pada tahap ini terdapat dua komponen, yaitu : 
a. Information Gathering
Pada tahap ini seorang pengembang khususnya yang berperan sebagai perancang pembelajaran (instructional designer) harus bisa mengumpulkan informasi yang diperlukan secara rinci. Informasi tersebut dapat meliputi materi, target peserta didik, dan sebagainya.
b. SAVVY Start
Pada tahap ini perancang pembelajaran (instructional designer) dan ahli materi (subject matter expert) perlu melakukan kolaborasi untuk bersama-sama membuat desain.

2. Iterative Design
Ketika tahap persiapan sudah selesai, maka selanjutnya dapat melangkah ke tahap Iterative Design. Pada tahap ini terdapat 3 (tiga) langkah kecil yakni :
a. Review (meninjau)
b. Design (merancang)
c. Prototype (purwarupa)
Ketiga langkah tersebut merupakan sebuah siklus yang berkesinambungan. Pengembang dapat melakukan review atau peninjauan terhadap design atau rancangan yang dibuat kemudian setelah memperoleh feedback atau umpan balik serta dinilai memenuhi syarat, maka selanjutnya dilanjutkan membuat prototype. Langkah kecil tersebut dapat diulang sebanyak 3 kali hingga menemukan prototype yang paling ideal.

3. Iterative Development
Tahap ini merupakan langkah lanjutan dari iterative design. Pada tahap ini memiliki 3 (tiga) langkah kecil, yakni :
a. Develop (mengembangkan)
b. Implement (menerapkan/mengujicobakan)
c. Evaluate (mengevaluasi)
Ketika prototype sudah jadi, maka langkah selanjutnya ialah mengembangkan produk berdasarkan prototype yang telah dibuat tadi, langkah ini merupakan langkah Develop atau mengembangkan. Setelah itu melakukan uji coba produk kepada pengguna (user) yang merupakan langkah Implement atau menerapkan. Kemudian pada langkah terakhir ialah dilaksanakan tahap Evaluate atau evaluasi terhadap produk yang dikembangkan tersebut. Ketiga langkah tersebut merupakan bentuk siklus yang berkesinambungan, serta dapat diulang sebanyak 3 kali sebelum produk akhir diluncurkan atau dirilis ke pengguna (user).

Pada model yang menerapkan tahapan berulang, maka tingkat fleksibilitas dalam pengembangannya cukup tinggi. Akan tetapi yang perlu diperhatikan oleh pengembang ialah perlunya komunikasi yang baik antar tim jika dalam proses pengembangannya melibatkan tim/kelompok. Model SAM merupakan model desain pembelajaran yang cukup rinci atau detail, meskipun terlihat hanya memiliki 3 (tiga) tahapan. Model desain pembelajaran ini juga memiliki kelebihan yakni proses pengembangannya yang cukup cepat. Hal tersebut dikarenakan tahapan yang dilakukan juga cukup cepat.

  • ADDIE vs SAM, Manakah yang paling sesuai?

Berdasarkan kedua model desain pembelajaran tersebut, manakah model yang paling baik untuk digunakan? Jawabannya ialah tergantung kondisi yang dialami. Simak rekomendasi pemilihan diantara kedua model tersebut berikut ini.

Kita dapat memilih model SAM, jika sesuai dengan kondisi berikut :
  1. Waktu pengembangan yang tersedia relatif singkat
  2. Diperbolehkannya modifikasi pada konten pembelajaran hingga ditemukannya formulasi yang paling sesuai menurut semua pihak
  3. Target pengguna produk memiliki skala cakupan yang luas atau bukan hanya 1 klien saja.
Kita dapat memilih model ADDIE, jika sesuai dengan kondisi berikut :
  1. Melibatkan banyak stakeholder atau pemangku kebijakan di luar tim pengembang.
  2. Proses mendapatkan feedback atau umpan balik yang relatif tidak cepat disebabkan pelibatkan berbagai pihak atau stakeholder.
  3. Waktu yang tersedia tidak fleksibel atau adanya tuntutan untuk selesai pada waktu tertentu.
Pada beberapa kasus, pengembang atau perancang pembelajaran berusaha memadukan antara dua atau beberapa model desain pembelajaran untuk memperoleh hasil pengembangan produk e-learning yang dinilai paling ideal. Akan tetapi hal tersebut diperlukan proses analisa yang mendalam ketika di awal proyek dan kesepakatan dengan pihak-pihak yang terlibat agar proses pengembangan berjalan dengan baik dan menghasilkan produk e-learning yang layak.

Baiklah rekan-rekan, itulah penjelasan dua model desain pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengembangkan konten pembelajaran pada e-learning. Penyampaian tentang kedua model tersebut sengaja kami uraikan secara ringkas agar lebih mudah dipahami. Jika menurut rekan-rekan, pemaparan tersebut kurang rinci, maka sangat dianjurkan untuk merujuk ke referensi yang lebih khusus membahas model-model tersebut. Terima kasih telah berkunjung, nantikan tulisan kami berikutnya !!



Sebelumnya
Selanjutnya

Saya adalah seorang penggiat di dunia pendidikan. Konsentrasi saya sekarang ialah dalam hal teknologi pendidikan dan pendidikan geografi. Saya sangat suka dalam menciptakan karya, baik berupa tulisan maupun media pembelajaran.

2 komentar:

  1. Kalo model SAM diterapkan pada penelitian pembuatan trainer bisakah pak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurut saya bisa, tapi kalau ada langkah atau tahapan yang mungkin gak sesuai dengan pengembangan trainer, bisa disesuaikan.

      Hapus

Saya ucapkan terima kasih sudah mengunjungi dan membaca tulisan di website kami. Kami selalu mengharapkan sebuah saran dan kritik yang membangun. Terima kasih.